Penerapan Mahar Mitsil dalam perspektif kompilasi hukum Islam

Authors

  • M. Sodli Program Studi Hukum Syariah, Fakultas Sosial, Ekonomi dan Humaniora, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Indonesia
  • Masdar Program Studi Hukum Syariah, Fakultas Sosial, Ekonomi dan Humaniora, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Indonesia
  • Imam Labib Hibaurrohman Program Studi Hukum Syariah, Fakultas Sosial, Ekonomi dan Humaniora, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Indonesia
  • Agus Salim Program Studi Hukum Syariah, Fakultas Sosial, Ekonomi dan Humaniora, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Indonesia
  • A.A. Mukhtarzain Program Studi Hukum Syariah, Fakultas Sosial, Ekonomi dan Humaniora, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.60036/jbm.1153

Keywords:

Mahar Mitsil, Kompilasi Hukum Islam, Nikah Tafwīḍ, Fikih Indonesia, Hak Ekonomi Istri

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan mahar mitsil dalam perspektif Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai instrumen perlindungan hak ekonomi istri dalam hukum keluarga Islam Indonesia, dengan menelaah tiga aspek utama: dasar normatif mahar mitsil dalam fikih Islam, kedudukan mahar mitsil dalam kerangka fikih Indonesia dan KHI, serta penerapannya dalam praktik hukum Islam di Indonesia.

Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif (normative legal research) dengan pendekatan konseptual (conceptual approach) dan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Sumber bahan hukum terdiri atas bahan hukum primer (Al-Qur'an, hadis, dan KHI Pasal 30–38), bahan hukum sekunder (literatur fikih klasik dan kontemporer, jurnal ilmiah terindeks), serta bahan hukum tersier. Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan (library research), dan analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif-analitis melalui tahapan inventarisasi norma, interpretasi, dan penarikan kesimpulan logis-deduktif.

Temuan –  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar mitsil berfungsi sebagai mekanisme korektif ketika mahar tidak ditentukan, tidak sah, atau tidak dapat dibuktikan, tanpa memengaruhi keabsahan akad nikah. Dalam konteks Indonesia, mahar mitsil memperoleh legitimasi normatif melalui Pasal 30–38 KHI—khususnya Pasal 35—dan diterapkan secara kontekstual oleh hakim Pengadilan Agama dengan mempertimbangkan ukuran kepatutan, adat kebiasaan (‘urf), serta kondisi sosial-ekonomi para pihak. Penerapan ini mencerminkan integrasi antara prinsip fikih klasik dan karakter fikih Indonesia yang adaptif terhadap realitas sosial.

Keterbatasan penelitian – Penelitian ini memiliki tiga keterbatasan utama. Pertama, ruang lingkup kajian bersifat normatif murni dan tidak mencakup analisis empiris terhadap putusan Pengadilan Agama secara spesifik. Kedua, sumber bahan hukum primer terbatas pada KHI sebagai kodifikasi hukum Islam nasional dan belum membandingkannya dengan undang-undang keluarga di negara Muslim lainnya. Ketiga, kajian ini belum melibatkan perspektif sosiologis terhadap praktik mahar mitsil di masyarakat Muslim Indonesia secara langsung.

Implikasi – Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan fikih Indonesia melalui penegasan integrasi substantif antara fikih klasik dan hukum Islam yang terkodifikasi. Secara praktis, penelitian ini memberikan kerangka normatif bagi hakim Pengadilan Agama dalam menetapkan besaran mahar mitsil secara proporsional, serta menjadi rujukan bagi praktisi hukum, akademisi, dan pembuat kebijakan dalam menyempurnakan regulasi mahar dalam KHI di masa mendatang.

Kebaruan – Kebaruan penelitian terletak pada upaya memposisikan mahar mitsil bukan sekadar sebagai mekanisme pengganti yang bersifat residual, melainkan sebagai instrumen keadilan substantif yang mengintegrasikan tiga lapis konstruksi hukum—prinsip fikih klasik, kerangka normatif KHI, dan logika pertimbangan yudisial berbasis ‘urf—dalam satu kerangka fikih Indonesia yang kontekstual dan adaptif untuk melindungi hak ekonomi istri.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdullah, B. (2013). Perkawinan dan perceraian dalam keluarga Muslim (Ed. I). Pustaka Setia.

Al-Bukhārī, M. I. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Nikāḥ. Dār Ṭauq al-Najāh.

Alfida, R., & Usman, S. (2016). Penetapan mahar bagi perempuan di Desa Kampung Paya, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Unsyiah, 1(1), 85–95. [DOI: lengkapi jika tersedia]

Al-Zuhaili, W. (2011). Al-Fiqh al-Islāmī wa adillatuhu (Jilid VII). Gema Insani Press.

Arifin, M. Z. (2012). Fiqh perempuan. Zaman.

Armia, & Nasution, I. (2019). Pedoman lengkap fiqh munakahat (Edisi 1). Kencana.

Asdar, F. (2023). Fikih Indonesia Hasbi Ash-Shiddieqy. Bilancia: Jurnal Studi Ilmu Syariah dan Hukum, 17(1), 171–186. https://doi.org/10.24239/blc.v17i1.1932

Ash-Shiddieqy, H. (2000). Syariat Islam menjawab tantangan zaman. Bulan Bintang.

Ath-Thabari, M. bin J. (2011). Jami' al-Bayan fi ta'wil ayat al-Qur'an. Mu'assasah ar-Risalah.

Azam, A. A. M., & Hawwas, A. W. S. (2017). Fiqh munakahat. Amzah.

Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI. (2023). Laporan tahunan Badan Peradilan Agama Tahun 2023. Mahkamah Agung Republik Indonesia. https://badilag.mahkamahagung.go.id

Dahlan, A. A., et al. (2001). Ensiklopedi hukum Islam (Jilid 2, Cet. V). Ichtiar Baru Van Hoeve.

Daly, P. (1998). Hukum perkawinan Islam. Bulan Bintang.

Damis, H. (2016). Konsep mahar dalam perspektif fikih dan perundang-undangan. Jurnal Yudisial, 9(1), 19–35. https://doi.org/10.29123/jy.v9i1.27

Ferdian, E. (2021). Batasan jumlah mahar (maskawin) dalam pandangan Islam dan hukum positif. Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah, 3(1), 50–62. [DOI: lengkapi jika tersedia]

Halomoan, P. (2015). Penetapan mahar terhadap kelangsungan pernikahan ditinjau menurut hukum Islam. Jurnal JURIS, 14(2). [DOI: lengkapi jika tersedia]

Hasan, M. (2011). Pengantar hukum keluarga. Pustaka Setia.

Hazairin. (1982). Hukum kekeluargaan nasional. Tintamas.

Ibnu Rusyd, M. bin A. bin M. (2016). Bidāyatu al-Mujtahid wa Nihāyatu al-Muqtaṣid (Jilid II). Dār al-‘Ilmiyyah.

Ibrahim, J. (2017). Teori dan metodologi penelitian hukum normatif. Bayumedia.

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. (1991). Departemen Agama Republik Indonesia.

Iqbal, M. (2015). Konsep mahar dalam perspektif Mazhab Imam Syafi'i. Jurnal al-Mursalah, 1(2). [DOI: lengkapi jika tersedia]

Kafi, A. (2020). Mahar pernikahan dalam pandangan hukum dan pendidikan Islam. Jurnal Paramurobi, 3(1), 50–65. [DOI: lengkapi jika tersedia]

Kaharuddin. (2015). Nilai-nilai filosofi perkawinan. Mitra Wacana Media.

Lubis, H. S., Nasution, R. H., & Saragih, M. (2022). Pendapat imam mazhab terhadap mahar mitsil bukan merupakan syarat kafa'ah. Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, 10(2), 145–160. [DOI: lengkapi jika tersedia — penulis perlu memverifikasi metadata lengkap referensi ini]

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2024). Direktori putusan Mahkamah Agung: Statistik perkara perkawinan periode 2019–2024. https://putusan3.mahkamahagung.go.id

Mahsun. (2020). Sejarah sosial pemikiran fiqih Indonesia (Hasbi Ash-Shiddieqy) dan fiqih mazhab nasional (Hazairin). Al-Mabsut, 14(1), 176–190. [DOI: lengkapi jika tersedia]

Maki, L. P. (2022). Kedudukan dan hikmah dalam perkawinan. Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Islam, 2(2). [DOI: lengkapi jika tersedia]

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi). Kencana.

Mugniyah, M. J. (2011). Fiqih lima mazhab. Lentera Shaf.

Muthiah, A. (2013). Hukum Islam: Dinamika seputar hukum keluarga. Pustaka Baru Press.

Nuruddin, A., & Tarigan, A. A. (2012). Hukum perdata Islam di Indonesia. Kencana.

Prananda, D. (2019). Pelaksanaan penetapan mahar perkawinan di Desa Baturijal Hilir Kecamatan Peranap Kabupaten Indragiri Hulu. JOM Fakultas Hukum Universitas Riau, 6(2), 1–15. [DOI: lengkapi jika tersedia]

Rayyan, A. A. T. (2005). Fiqh al-usrah. The American Open University.

Ridwan, M. (2020). Kedudukan mahar dalam perkawinan. Jurnal Perspektif, 13(1). [DOI: lengkapi jika tersedia]

Saebani, B. A. (2013). Fikih munakahat 1. Pustaka Setia.

Al-Sadlan, S. bin G. (2002). Seputar pernikahan. Darul Haaq.

Slamet, A., & Aminudin. (1999). Fiqih munakahat 1. Pustaka Setia.

Soekanto, S., & Mamudji, S. (2019). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Rajawali Press.

Supardin. (2014). Fikih peradilan agama di Indonesia (Cet. I). University Press.

Syarifuddin, A. (2014). Hukum perkawinan Islam di Indonesia. Kencana.

Taqiyyudin, I. bin M. al-Husaini. (2017). Kifayatul al-Akhyar (Juz II). Imaratullah.

Tihami, dkk. (2010). Kajian fikih nikah lengkap. Raja Grafindo Persada.

Yulianti. (2021). Kreasi mahar pernikahan dalam perspektif hukum Islam. An-Nahdhah, 14(2), 130–152. [DOI: lengkapi jika tersedia]

Zulaifi. (2022). Konsep mahar menurut pemikiran ulama empat mazhab dan relevansinya di era kontemporer. Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming, 16(2). https://doi.org/10.20414/qawwam.v16i2.5743

Downloads

Published

2026-06-24

How to Cite

Sodli, M., Masdar, M., Hibaurrohman, I. L., Salim, A., & Mukhtarzain, A. (2026). Penerapan Mahar Mitsil dalam perspektif kompilasi hukum Islam. Jurnal Bisnis Mahasiswa, 6(3), 1287–1297. https://doi.org/10.60036/jbm.1153