Pemanfaatan fenomena bioluminesensi jamur sebagai atraksi nokturnal tourism di Desa Malasari
DOI:
https://doi.org/10.60036/jbm.1133Keywords:
Jamur, Bioluminesensi, Wisata Malam, Desa Wisata, Wisata Minat Khusus, Citalahab, MalasariAbstract
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bioluminesensi jamur sebagai daya tarik wisata serta merumuskan strategi pengembangan atraksi wisata malam yang berkelanjutan di Desa Malasari, Kabupaten Bogor.
Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui empat teknik, yaitu observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD). Ruang lingkup penelitian berfokus pada potensi ekowisata berbasis fenomena alam nocturnal dengan pendekatan pengembangan destinasi wisata berkelanjutan.
Temuan – Jamur bioluminesensi di Desa Malasari memiliki daya tarik visual yang tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi atraksi unggulan wisata malam. Namun, pengembangannya masih terkendala oleh aksesibilitas yang terbatas, keamanan jalur trekking, serta pengelolaan berbasis konservasi yang belum optimal.
Keterbatasan penelitian – Penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan lokasi yang terbatas di kawasan tertentu serta jumlah informan yang relatif terbatas. Penelitian ini juga belum mengkaji secara kuantitatif aspek ekonomi dan tingkat minat wisatawan.
Implikasi – Hasil penelitian ini mengimplikasikan perlunya pengembangan yang mencakup penyusunan paket wisata malam, penguatan edukasi lingkungan, serta pelibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata berbasis keberlanjutan. Pemerintah daerah dan pengelola destinasi perlu merancang kebijakan yang mendukung konservasi sekaligus pemberdayaan ekonomi komunitas.
Kebaruan – Penelitian ini merupakan upaya awal yang secara spesifik mengangkat fenomena bioluminesensi jamur sebagai objek kajian pengembangan nocturnal tourism di Indonesia tepatnya Desa Malasari di kawasan ekowisata. Dalam konteks wisata, dapat menjadi kontribusi baru dalam literatur pengembangan pariwisata minat khusus.
Downloads
References
Manaf, A., Purbasari, N., Damayanti, M., Aprilia, N., & Astuti, W. (2018). Community-based rural tourism in inter-organizational collaboration: How does it work sustainably? Lessons learned from Nglanggeran Tourism Village, Gunungkidul Regency, Yogyakarta, Indonesia. Sustainability, 10(7), 2142. https://doi.org/10.3390/su10072142
Ruan, W. Q., Jiang, G. X., Li, Y. Q., & Zhang, S. N. (2023). Night tourscape: Structural dimensions and experiential effects. Journal of Hospitality and Tourism Management, 55, 108–117. https://doi.org/10.1016/j.jhtm.2023.03.010
Higgins-Desbiolles, F. (2018). Sustainable tourism: Sustaining tourism or something more? Tourism Management Perspectives, 25, 157–160. https://doi.org/10.1016/j.tmp.2017.11.017
Hariyadi, B. R., Rokhman, A., Rosyadi, S., Yamin, M., & Runtiko, A. G. (2024). The role of community-based tourism in sustainable tourism village in Indonesia. Revista de Gestão Social e Ambiental – RGSA, 18(7), e05466. https://doi.org/10.24857/rgsa.v18i7.5466
Septianingrum, D., Lumbantoruan, S. A., Anggraeni, N., Utami, F., Karina, A. R., Fadhil, M. H., Santosa, J. R., Maharani, S. P., Dzulfigar, A., Abdurrohim, Z. C., Madinu, A. M. A., Ulfa, A., Nabilla, Y. N., Nur’aini, S., Khofifah, I. N., Setyaningrum, N., Hendriatna, A. W., Asy’Ari, R., Setiawan, Y., & Sumanto, A. (2025). Assessment of bioluminescent fungi and their ecological relationship in Mount Halimun Salak National Park, West Java Province. SSRS Journal A: Agro-Environmental Research, 42–56.
Elkhateeb, W. A., & Daba, G. M. (2022). Bioluminescent mushrooms: Boon for environmental health. Mycena : new and noteworthy species. Environmental Science and Archives, 1(2), 47–55. https://www.envsciarch.com/volume1issue2/article/bioluminescent-mushrooms
Eldridge, A., & Smith, A. (2019). Tourism and the night: towards a broader understanding of nocturnal city destinations. Journal of Policy Research in Tourism, Leisure and Events, 11(3), 371–379. https://doi.org/10.1080/19407963.2019.1631519
Nugeraha, F., Haryadi, S. R., Mahardhika, W. A., Nurhayat, O. D., & Putra, I. P. (2025). New record of Mycena chlorophos (bioluminescent fungi) for Indonesia. BIOTROPIA, 32(3), 383–393. https://doi.org/10.11598/btb.2025.32.3.2547
Istomo, I., & Sari, P. N. (2019). Penyebaran Dan Karakteristik Habitat Jenis Rasamal (Altingia excelsa Noronha) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 9(3), 608–625. https://doi.org/10.29244/jpsl.9.3.608-625
Kusuma, S. H., Hattori, M., & Nagai, T. (2025). Autonomous Bioluminescence Systems: From Molecular Mechanisms to Emerging Applications. JACS Au, 5(11), 5237–5252. https://doi.org/10.1021/jacsau.5c01072
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Sage Publications.
Oliveira, A. G., Stevani, C. V., Waldenmaier, H. E., Viviani, V., Emerson, J. M., Loros, J. J., & Dunlap, J. C. (2015). Circadian Control Sheds Light on Fungal Bioluminescence. Current Biology, 25(7), 964–968. https://doi.org/10.1016/j.cub.2015.02.021
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. CV. Alfabeta.
Faisal, M. A., Mehbub, M. F., Lekuona, M., Ahmad Kushairi, M. R., & Shamsir, M. S. (2024). Fungal bioluminescence: Past, present, and future. Diversity, 16(9), 539. 2. https://doi.org/10.3390/d16090539
Wondirad, A., Tolkach, D., & King, B. (2020). Stakeholder collaboration as a major factor for sustainable ecotourism development in developing countries. Tourism Management, 78, 104024. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2019.104024
UNWTO. (2018). Tourism for Development – Volume I: Key Areas for Action. World Tourism Organization (UNWTO). https://doi.org/10.18111/9789284419722
Siregar, M. R. A., Damayanti, N. A., Sugiana, D., & Khadijah, U. L. S. (2023). Measuring communities’ perceptions towards the socio-economic impact of community-based tourism development of tourism villages in Indonesia (Case from Bogor Regency, Indonesia). Journal of Law and Sustainable Development, 11(11), e1964. https://doi.org/10.55908/sdgs.v11i11.1964
Shasha, Z. T., Geng, Y., Sun, H. P., Musakwa, W., & Sun, L. (2020). Past, current, and future perspectives on eco-tourism: A bibliometric review between 2001 and 2018. Environmental Science and Pollution Research, 27, 23514–23528. https://doi.org/10.1007/s11356-020-08584-9
Priatmoko, S., Kabil, M., Purwoko, Y., & Dávid, L. D. (2021). Rethinking sustainable community-based tourism: A villager’s point of view and case study in Pampang Village, Indonesia. Sustainability, 13(6), 3245. https://doi.org/10.3390/su13063245
Arya, C. P., Ratheesh, S., & Pradeep, C. K. (2021). New record of luminescent Mycena chlorophos (Mycenaceae) from Western Ghats of India. Studies in Fungi, 6(1), 507–513. https://doi.org/10.5943/sif/6/1/40
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jenal Abidin, Lala Siti Sahara, Ahmad Hikam Zarkasi, Ade Isan Febrianto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



