Pemanfaatan fenomena bioluminesensi jamur sebagai atraksi nokturnal tourism di Desa Malasari

Authors

  • Jenal Abidin Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia
  • Lala Siti Sahara Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia
  • Ahmad Hikam Zarkasi Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia
  • Ade Isan Febrianto Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.60036/jbm.1133

Keywords:

Jamur, Bioluminesensi, Wisata Malam, Desa Wisata, Wisata Minat Khusus, Citalahab, Malasari

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bioluminesensi jamur sebagai daya tarik wisata serta merumuskan strategi pengembangan atraksi wisata malam yang berkelanjutan di Desa Malasari, Kabupaten Bogor.

Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui empat teknik, yaitu observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD). Ruang lingkup penelitian berfokus pada potensi ekowisata berbasis fenomena alam nocturnal dengan pendekatan pengembangan destinasi wisata berkelanjutan.

Temuan – Jamur bioluminesensi di Desa Malasari memiliki daya tarik visual yang tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi atraksi unggulan wisata malam. Namun, pengembangannya masih terkendala oleh aksesibilitas yang terbatas, keamanan jalur trekking, serta pengelolaan berbasis konservasi yang belum optimal.

Keterbatasan penelitian – Penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan lokasi yang terbatas di kawasan tertentu serta jumlah informan yang relatif terbatas. Penelitian ini juga belum mengkaji secara kuantitatif aspek ekonomi dan tingkat minat wisatawan.

Implikasi – Hasil penelitian ini mengimplikasikan perlunya pengembangan yang mencakup penyusunan paket wisata malam, penguatan edukasi lingkungan, serta pelibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata berbasis keberlanjutan. Pemerintah daerah dan pengelola destinasi perlu merancang kebijakan yang mendukung konservasi sekaligus pemberdayaan ekonomi komunitas.

Kebaruan – Penelitian ini merupakan upaya awal yang secara spesifik mengangkat fenomena bioluminesensi jamur sebagai objek kajian pengembangan nocturnal tourism di Indonesia tepatnya Desa Malasari di kawasan ekowisata. Dalam konteks wisata, dapat menjadi kontribusi baru dalam literatur pengembangan pariwisata minat khusus.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Manaf, A., Purbasari, N., Damayanti, M., Aprilia, N., & Astuti, W. (2018). Community-based rural tourism in inter-organizational collaboration: How does it work sustainably? Lessons learned from Nglanggeran Tourism Village, Gunungkidul Regency, Yogyakarta, Indonesia. Sustainability, 10(7), 2142. https://doi.org/10.3390/su10072142

Ruan, W. Q., Jiang, G. X., Li, Y. Q., & Zhang, S. N. (2023). Night tourscape: Structural dimensions and experiential effects. Journal of Hospitality and Tourism Management, 55, 108–117. https://doi.org/10.1016/j.jhtm.2023.03.010

Higgins-Desbiolles, F. (2018). Sustainable tourism: Sustaining tourism or something more? Tourism Management Perspectives, 25, 157–160. https://doi.org/10.1016/j.tmp.2017.11.017

Hariyadi, B. R., Rokhman, A., Rosyadi, S., Yamin, M., & Runtiko, A. G. (2024). The role of community-based tourism in sustainable tourism village in Indonesia. Revista de Gestão Social e Ambiental – RGSA, 18(7), e05466. https://doi.org/10.24857/rgsa.v18i7.5466

Septianingrum, D., Lumbantoruan, S. A., Anggraeni, N., Utami, F., Karina, A. R., Fadhil, M. H., Santosa, J. R., Maharani, S. P., Dzulfigar, A., Abdurrohim, Z. C., Madinu, A. M. A., Ulfa, A., Nabilla, Y. N., Nur’aini, S., Khofifah, I. N., Setyaningrum, N., Hendriatna, A. W., Asy’Ari, R., Setiawan, Y., & Sumanto, A. (2025). Assessment of bioluminescent fungi and their ecological relationship in Mount Halimun Salak National Park, West Java Province. SSRS Journal A: Agro-Environmental Research, 42–56.

Elkhateeb, W. A., & Daba, G. M. (2022). Bioluminescent mushrooms: Boon for environmental health. Mycena : new and noteworthy species. Environmental Science and Archives, 1(2), 47–55. https://www.envsciarch.com/volume1issue2/article/bioluminescent-mushrooms

Eldridge, A., & Smith, A. (2019). Tourism and the night: towards a broader understanding of nocturnal city destinations. Journal of Policy Research in Tourism, Leisure and Events, 11(3), 371–379. https://doi.org/10.1080/19407963.2019.1631519

Nugeraha, F., Haryadi, S. R., Mahardhika, W. A., Nurhayat, O. D., & Putra, I. P. (2025). New record of Mycena chlorophos (bioluminescent fungi) for Indonesia. BIOTROPIA, 32(3), 383–393. https://doi.org/10.11598/btb.2025.32.3.2547

Istomo, I., & Sari, P. N. (2019). Penyebaran Dan Karakteristik Habitat Jenis Rasamal (Altingia excelsa Noronha) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 9(3), 608–625. https://doi.org/10.29244/jpsl.9.3.608-625

Kusuma, S. H., Hattori, M., & Nagai, T. (2025). Autonomous Bioluminescence Systems: From Molecular Mechanisms to Emerging Applications. JACS Au, 5(11), 5237–5252. https://doi.org/10.1021/jacsau.5c01072

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Sage Publications.

Oliveira, A. G., Stevani, C. V., Waldenmaier, H. E., Viviani, V., Emerson, J. M., Loros, J. J., & Dunlap, J. C. (2015). Circadian Control Sheds Light on Fungal Bioluminescence. Current Biology, 25(7), 964–968. https://doi.org/10.1016/j.cub.2015.02.021

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. CV. Alfabeta.

Faisal, M. A., Mehbub, M. F., Lekuona, M., Ahmad Kushairi, M. R., & Shamsir, M. S. (2024). Fungal bioluminescence: Past, present, and future. Diversity, 16(9), 539. 2. https://doi.org/10.3390/d16090539

Wondirad, A., Tolkach, D., & King, B. (2020). Stakeholder collaboration as a major factor for sustainable ecotourism development in developing countries. Tourism Management, 78, 104024. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2019.104024

UNWTO. (2018). Tourism for Development – Volume I: Key Areas for Action. World Tourism Organization (UNWTO). https://doi.org/10.18111/9789284419722

Siregar, M. R. A., Damayanti, N. A., Sugiana, D., & Khadijah, U. L. S. (2023). Measuring communities’ perceptions towards the socio-economic impact of community-based tourism development of tourism villages in Indonesia (Case from Bogor Regency, Indonesia). Journal of Law and Sustainable Development, 11(11), e1964. https://doi.org/10.55908/sdgs.v11i11.1964

Shasha, Z. T., Geng, Y., Sun, H. P., Musakwa, W., & Sun, L. (2020). Past, current, and future perspectives on eco-tourism: A bibliometric review between 2001 and 2018. Environmental Science and Pollution Research, 27, 23514–23528. https://doi.org/10.1007/s11356-020-08584-9

Priatmoko, S., Kabil, M., Purwoko, Y., & Dávid, L. D. (2021). Rethinking sustainable community-based tourism: A villager’s point of view and case study in Pampang Village, Indonesia. Sustainability, 13(6), 3245. https://doi.org/10.3390/su13063245

Arya, C. P., Ratheesh, S., & Pradeep, C. K. (2021). New record of luminescent Mycena chlorophos (Mycenaceae) from Western Ghats of India. Studies in Fungi, 6(1), 507–513. https://doi.org/10.5943/sif/6/1/40

Downloads

Published

2026-04-30

How to Cite

Abidin, J., Sahara, L. S., Zarkasi, A. H., & Febrianto, A. I. (2026). Pemanfaatan fenomena bioluminesensi jamur sebagai atraksi nokturnal tourism di Desa Malasari. Jurnal Bisnis Mahasiswa, 6(2), 1019–1033. https://doi.org/10.60036/jbm.1133